Jakarta, 12 Maret 2018.
Hari ini merupakan pertemuan kedua kami dalam mata kuliah
Sosiologi Perilaku Menyimpang bersama dosen kami yaitu Pak Abdul Rahman Hamid SH., MH. Pertemuan
pertama kami disini untuk mendiskusikan waktu yang tepat untuk menjalani
perkuliahan selanjutnya dan akhirnya ditetapkan bahwa perkuiahan akan dimulai
setiap hari senin pukul 8 pagi.
Pertemuan
kedua ini Pak Rahman mulai membahasa tentang materi, dia membahas tentang
gambaran umum dari penyimpangan. Secara umum penyimpangan adalah suatu perilaku
yang bertolak belakang dengan nilai dan norma yang berkembang pada masyarakat. Norma
sendiri adalah salah satu produk sosial yang diawali dari interaksi sosial dan
proses sosial. urutannya adalah interaksi sosial – proses sosial – produk sosial.
Lalu
beliau bertanya di kelas, menusia adalah makhluk sosial, bagaimana bila ada
manusia yang tinggal sendirian di hutan? Apakah masih bisa disebut manusia?. Jawabannya
adalah Ya, dia tetap manusia. Namun dia tidak menjadi manusia seutuhnya karena
eksistensi dia pada masyarakat tidak ada. Dan juga akal pikiran yang harusnya
berkembang menjadi terbatasi karena tidak terjadi interaksi kepada sesama
manusia.
Interaksi
itu sendiri merupakan cikal bakal dari proses sosial, tanpa adanya interaksi
maka tidak akan terjadi proses sosial. interaksi dapat terjadi bila individu
atau kelompok saling mempengaruhi satu sama lain. apakah membaca sebagai suatu
bentuk interaksi? Tentu saja, menurut Pak Rahman banyak para ilmuwan yang
berpendapat bahwa membaca buku merupakan suatu bentuk interaksi karena dapat menimbulkan
suatu produk sosial. Misalnya ada seorang mahasiswa yang tidak pernah datang ke
Baduy, lalu dia membaca buku tentang tata krama di Baduy, dari membaca buku
tersebut timbul lah produk sosial yaitu tata krama si mahasiswa saat di Baduy
karena awalnya sudah membaca buku tentang tata krama di Baduy walau dia belum
pernah ke Baduy sebelumnya.
Pak
Rahman lalu melanjutkan bagaimana pentingnya membahas tentang norma dalam mata
kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang. Pentingnya membahas norma dalam mata
kuliah ini adalah karena norma lah yang menjadi patokan suatu perilaku disebut
meyimpang atau tidak. Apa lagi pentingnya penyimpan? Penyimpangan penting
sebagai perantara untuk membuat norma yang baru agar dapat membuat perubahan
dalam masyarakat.
Selanjutnya
dilanjutnya oleh sesi diskusi, salah satu penanya yaitu Taufan Ismail bertanya
tentang pertauran baru MD3 yang berisi tentang pengkritik DPR yang akan dipidana.
Pak Rahman lalu menjelaskan bahwa itu merupakan salah satu bentuk perubahan
norma, namun yang membedakan adalah peraturan tersebut BUKAN perubahan norma
yang berasal dari penyimpangan tetapi perubahan yang malah MENGHASILKAN
penyimpangan.
Penyimpangan
pun bersifat relatif tergantung dari situasi, lokasi dan hal lainnya. Misalnya adalah
di Indonesia jika makan berbunyi maka
itu termasuk penyimpangan dalam norma kesopanan, tetapi beda halnya jika di
Jepang. Disana mengeluarkan bunyi saat menghisap mie ke mulut merupakan suatu
penghargaan bagi si koki atau yang memasak mie tersebut karena mie tersebut
enak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar